Penyakit yang Ditularkan Nyamuk Ancam Kesehatan Dunia, Jutaan Orang Berisiko Terinfeksi
Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk masih menjadi ancaman kesehatan global pada April 2015. Malaria, demam berdarah dengue, chikungunya, dan demam kuning terus menjadi perhatian otoritas kesehatan dunia di tengah penyebaran penyakit, keterbatasan akses pengobatan, serta tantangan pengendalian populasi nyamuk.
Jenewa | Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk terus menjadi persoalan kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti perlunya peningkatan upaya pencegahan, diagnosis, dan pengobatan untuk menekan angka kesakitan serta kematian akibat penyakit yang ditularkan oleh vektor, termasuk nyamuk, April 2015
Malaria dan demam berdarah dengue menjadi dua penyakit yang mendapat perhatian besar karena beban penyakitnya masih tinggi. Sementara itu, penyebaran chikungunya di kawasan Amerika dan Karibia menambah tantangan bagi otoritas kesehatan dalam mengendalikan penyakit menular yang dibawa nyamuk.
Dalam peringatan Hari Malaria Sedunia pada 25 April 2015, WHO menyerukan peningkatan akses terhadap pencegahan, pemeriksaan, dan pengobatan malaria. Meskipun jumlah kasus dan kematian akibat malaria telah menurun sejak tahun 2000, penyakit tersebut masih menyebabkan lebih dari setengah juta kematian setiap tahun.
WHO mencatat bahwa setidaknya tiga perempat kematian akibat malaria terjadi pada anak-anak berusia di bawah lima tahun. Di sejumlah wilayah Afrika, keterbatasan akses terhadap obat-obatan, pemeriksaan diagnostik, dan kelambu berinsektisida masih menjadi kendala dalam upaya menekan penularan.
WHO juga mendorong perluasan penggunaan terapi kombinasi berbasis artemisinin untuk malaria tanpa komplikasi, serta pemeriksaan diagnostik bagi orang yang dicurigai terinfeksi. Langkah tersebut diperlukan agar pasien memperoleh pengobatan yang sesuai dan penggunaan obat antimalaria lebih tepat sasaran.
Selain malaria, chikungunya menjadi perhatian karena penyebarannya di kawasan Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan sejak akhir 2013. Penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya ini ditularkan terutama melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang juga dapat menularkan virus dengue.
Menurut data yang dirangkum WHO, hingga April 2015 lebih dari 1,37 juta kasus chikungunya yang dicurigai telah tercatat di kawasan Amerika, dengan 191 kematian dilaporkan terkait penyakit tersebut. Penularan lokal telah teridentifikasi di lebih dari 43 negara dan wilayah di kawasan itu.
Chikungunya umumnya menimbulkan demam mendadak dan nyeri sendi yang dapat berlangsung cukup lama. Gejalanya bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan dalam sejumlah kasus memerlukan perawatan medis.
Meluasnya penyebaran penyakit ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi negara-negara dalam mengendalikan nyamuk pembawa virus, terutama di wilayah dengan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakannya.
Demam berdarah dengue juga merupakan salah satu penyakit virus yang ditularkan nyamuk dengan beban kesehatan global yang besar. WHO sebelumnya memperkirakan sekitar 2,5 miliar orang di lebih dari 100 negara berada dalam wilayah berisiko terkena dengue.
Penyakit ini dapat menimbulkan demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta pada kasus berat menyebabkan perdarahan dan gangguan sirkulasi yang mengancam jiwa.
Pergerakan penduduk, perjalanan internasional, urbanisasi yang cepat, dan perubahan lingkungan dapat memengaruhi penyebaran nyamuk serta meningkatkan kemungkinan penularan di wilayah baru.
Karena belum tersedia vaksin yang berlisensi secara luas untuk mencegah dengue pada April 2015, pengendalian nyamuk dan pengurangan risiko gigitan masih menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
WHO menekankan bahwa pengendalian vektor merupakan salah satu pendekatan utama untuk mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk. Upaya tersebut mencakup pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk, penggunaan kelambu berinsektisida di wilayah yang memerlukan, penyemprotan insektisida sesuai kebutuhan, serta peningkatan akses terhadap diagnosis dan pengobatan.
Masyarakat juga didorong untuk menghilangkan genangan air yang dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak, menutup tempat penampungan air, dan menggunakan perlindungan terhadap gigitan nyamuk.
Di sisi lain, pemerintah dan lembaga kesehatan perlu memperkuat sistem surveilans untuk mendeteksi peningkatan kasus sejak dini. Koordinasi lintas negara juga penting karena perjalanan internasional dapat membawa orang yang terinfeksi ke wilayah tempat nyamuk penular ditemukan.
Berbagai penyakit yang ditularkan nyamuk memiliki pola penularan dan dampak kesehatan yang berbeda. Namun, upaya pencegahannya sama-sama membutuhkan pengawasan epidemiologi, layanan kesehatan yang memadai, pengendalian vektor, serta keterlibatan masyarakat.
Dalam seruannya pada Hari Malaria Sedunia 2015, WHO menegaskan pentingnya memperluas akses terhadap pencegahan, pemeriksaan, dan pengobatan, khususnya bagi kelompok rentan dan masyarakat yang tinggal di wilayah endemis.
Penguatan program kesehatan masyarakat dan pengendalian nyamuk diharapkan dapat menekan penularan serta mengurangi jumlah kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Hingga April 2015, penyakit yang ditularkan nyamuk tetap menjadi tantangan kesehatan global yang memerlukan penanganan berkelanjutan dan kerja sama internasional.
Sumber: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), laporan Hari Malaria Sedunia, 23 April 2015; WHO, informasi penyakit yang ditularkan vektor; serta jurnal Emerging Infectious Diseases dari CDC, edisi April 2015.