Serangan Pemukim Israel di Tengah Panen Zaitun Memicu Kecaman Internasional
Al Jazeera melaporkan situasi di wilayah Tepi Barat yang diduduki semakin tegang menyusul gelombang serangan terorganisir oleh pemukim ekstremis Israel terhadap petani Palestina dan diplomat asing. Rangkaian kekerasan yang terjadi di tengah musim panen zaitun ini memicu kecaman keras dari negara-negara Eropa serta tuntutan penegakan hukum dari sekutu internasional. Sementara itu, serangan drone terpisah di wilayah Jalur Gaza dilaporkan terus menjatuhkan korban jiwa warga sipil.
Ramalah | Kelompok pemukim bersenjata Israel melakukan penyerangan brutal menggunakan tongkat dan senjata api terhadap para petani Palestina serta delegasi diplomat Eropapada Minggu (18/10/26) di beberapa desa perkebunan zaitun sekitar wilayah Ramallah dan Salfit, Tepi Barat yang diduduki guna mengintimidasi warga lokal agar meninggalkan lahan pertanian mereka melalui pembakaran pohon serta penembakan peluru tajam
Laporan langsung jurnalis Al Jazeera dari lapangan mengonfirmasi bahwa eskalasi kekerasan di Tepi Barat mengalami lonjakan drastis dalam beberapa hari terakhir. Di wilayah Deir Jarir dan Burqa, para pemukim ekstremis yang dilaporkan mendapat perlindungan dari beberapa elemen militer melepas tembakan langsung ke arah petani untuk menggagalkan panen tahunan. Serangan tidak hanya menyasar warga Palestina; sekelompok politikus serta diplomat senior asal Prancis dan negara Eropa lainnya yang sedang meninjau situasi pertanian juga ikut diserang secara fisik.
Kondisi tersebut diperparah oleh adanya maklumat keagamaan dari rabi garis keras terafiliasi pemerintah sayap kanan Israel, yang secara terbuka membenarkan perampasan hasil bumi di tanah Palestina. Jurnalis foto internasional, termasuk jurnalis Washington Post, dilaporkan menderita luka serius akibat pukulan benda tumpul saat mencoba mendokumentasikan kerusuhan tersebut.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, merespons insiden ini dengan menuntut otoritas keamanan Israel untuk segera menangkap dan mengadili para pelaku kekerasan kriminal tersebut.
Lembaga hak asasi manusia mencatat sedikitnya ada 300 insiden serangan serupa yang terdokumentasi sejak awal bulan ini. Hal ini dinilai sebagai bagian dari kampanye sistematis untuk melumpuhkan perekonomian warga Palestina yang bergantung pada sektor perkebunan.
Di sisi lain, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza dilaporkan kian memprihatinkan. Di samping ancaman serangan udara drone yang menewaskan sedikitnya enam warga sipil dalam 24 jam terakhir, Kementerian Kesehatan setempat memperingatkan tingkat malnutrisi telah mencapai level bencana. Hal ini terjadi akibat pemblokiran total pengiriman barang-barang komersial, pakaian musim dingin, dan bahan pangan segar oleh otoritas pembatasan di perbatasan.