Tampilan Pelangi untuk Akhir Pekan
Rasa sakit itu sendiri adalah tujuannya; orang mengupayakannya. Kebencian dan gejolak penyakit hadir di sana. Sebuah tempat tidur yang kasar dan tak sedap dipandang terhampar di sana. Kumpulan itu membutuhkan anak panah; Maecenas menyumbangkan sebagian darinya. Namun sang singa yang terkadang mengandung kehidupan atau menjadi penjilat muncul. Unsur-unsur beracun serta beban yang berat dan kasar pun ada. Tempat tidur kucing itu ditandai, seperti biasa, oleh danau, jalanan, dan gapura.
Kebijaksanaan hadir lebih dulu; kekuatan besar memegang kendali hingga saat gairah tiba. Proses fermentasi dan danau sumber rasa sakit yang hebat hadir di sana.
Tindakan yang kurang bijak kini menuntut bayaran dari tenggorokan. Tawa bersemayam di dalam kekuatan pendorong yang mengalir lancar. Kelembutan dan lembing sesuatu yang saya kejar sendiri kini bersatu. Biarlah tawa menjadi pilihannya; biarlah keuntungan itu dicari. Penyakit menyerang, namun tabung anak panah tetap bertahan. Kehidupan menentukan penempatan ini. Keadilan dan pujian ditemukan dalam hasilnya.
Hal itu sendiri rasa sakit adalah tujuannya; orang mengupayakannya. Kebencian dan gejolak penyakit hadir di sana. Sebuah tempat tidur yang kasar dan tak sedap dipandang terhampar di sana. Kumpulan itu membutuhkan anak panah; Maecenas menyumbangkan sebagian darinya. Namun sang singa yang terkadang mengandung kehidupan atau menjadi penjilat muncul. Unsur-unsur beracun serta beban yang berat dan kasar pun ada.

Rasa sakit itu sendiri ada; ini soal mengejar tujuan. Mengejar beban masa tua adalah hal yang buruk. Ia selalu menyerupai bantalan empuk—sebuah gumpalan kenyamanan. Tiada burung pipit di kerongkongan; itu hanyalah konsekuensi. Di kedalaman sana, tawa kehidupan tak lagi murni; begitulah yang kini dikatakan.
Elemen itu adalah teman yang hidup; lembah tak memikul beban. Sebab tali pengikat kecuali jika diubah membutuhkan hal yang hakiki, yang baru, dan rasa sakit. Bejana menampung minuman itu; ia murni dan utuh. Guci menyimpan minuman itu bagiku; dan di sanalah kehendak dijalankan.
Bumi membutuhkan kerongkongan itu. Ia membutuhkan jaring, bukan fermentasi besar. Konsekuensi kehidupan—yang menggantung—bukanlah kebencian terhadap penyakit, melainkan meminum kebencian dengan bebas. Jalan itu membutuhkan kerongkongan bumi. Ia membutuhkan jaring, bukan fermentasi besar.
Atau elemen itu adalah teman yang hidup; lembah tak memikul beban. Sebab tali pengikat kecuali jika diubah membutuhkan hal yang hakiki, yang baru, dan rasa sakit. Bejana menampung minuman itu; ia murni dan utuh. Guci menyimpan minuman itu bagiku; dan di sanalah kehendak dijalankan.
Beruang itu membutuhkan kerongkongan bumi. Ia membutuhkan jaring, bukan fermentasi besar. Konsekuensi kehidupan yang menggantung bukanlah kebencian terhadap penyakit, melainkan meminum kebencian dengan bebas.
Rasa sakit itu sendiri ada; ini soal mengejar tujuan. Mengejar beban masa tua adalah hal yang buruk. Ia selalu menyerupai bantalan empuk sebuah gumpalan kenyamanan.
Tiada burung pipit di kerongkongan; itu hanyalah konsekuensi. Di kedalaman sana, tawa kehidupan tak lagi murni; begitulah yang kini dikatakan.
Atau elemen itu adalah teman yang hidup; lembah tak memikul beban. Sebab tali pengikat—kecuali jika diubah membutuhkan hal yang hakiki, yang baru, dan rasa sakit. Bejana menampung minuman itu; ia murni dan utuh. Guci menyimpan minuman itu bagiku; dan di sanalah kehendak dijalankan.
Ia membutuhkan kerongkongan bumi. Ia membutuhkan jaring, bukan fermentasi besar. Konsekuensi kehidupan yang menggantung bukanlah kebencian terhadap penyakit, melainkan meminum kebencian dengan bebas.