Sinergi BUMN dan Swasta Perkuat Rantai Pasok Chip Listrik untuk Kendaraan Listrik Nasional
JAKARTA | Konsorsium BUMN manufaktur bersinergi dengan tiga perusahaan teknologi swasta nasional resmi memulai operasi pabrik perakitan komponen semikonduktor dan power chip kendaraan listrik (EV) skala besar pertama di Cikarang, Jawa Barat, pada pertengahan Agustus 2026. Langkah ini diambil oleh Kementerian BUMN bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian untuk memperkuat rantai pasok industri otomotif listrik serta memangkas ketergantungan impor komponen elektronik secara signifikan.
Penguatan industri komponen dalam negeri menjadi perhatian utama pemerintah menyusul melonjaknya adopsi kendaraan listrik di pasar domestik dan Asia Tenggara. Tanpa ketersediaan semikonduktor lokal yang stabil, efisiensi harga dan kepastian produksi kendaraan listrik di dalam negeri rentan terganggu oleh gejolak pasokan global serta fluktuasi nilai tukar.
Dalam skema operasionalnya, pabrik seluas 12 hektar ini dirancang untuk memproduksi hingga 50 juta unit power management chip per tahun pada tahap awal. Pemerintah memberikan fasilitas pengalihan bea masuk bahan baku serta keringanan tarif bea keluar bagi produk akhir yang ditujukan untuk ekspor, dengan target proporsi pasar 60 persen kebutuhan domestik dan 40 persen ekspor regional.
Fasilitas produksi ini telah mengintegrasikan pemanfaatan sumber daya lokal dan menyerap lebih dari 2.500 tenaga kerja ahli serta teknisi dalam negeri. Selain itu, Kementerian ESDM turut memfasilitasi pasokan listrik berbasis energi terbarukan melalui jaringan Power Purchase Agreement (PPA) hijau guna memastikan seluruh proses manufaktur memenuhi kualifikasi industri rendah karbon.
Antusiasme dunia usaha dan perkembangan pasar modal pascarilis operasional fasilitas ini terekam di berbagai media massa. Liputan6.com melaporkan dalam liputannya bahwa saham-saham emiten sektor otomotif dan komponen elektronik mengalami peningkatan volume perdagangan secara merata di Bursa Efek Indonesia. Sementara itu, sebagaimana dirilis oleh Kontan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyambut baik terobosan ini karena dinilai mampu mempercepat efisiensi biaya manufaktur EV lokal hingga 12–15 persen per unit.
Analis sektor industri memperkirakan keberhasilan proyek rantai pasok semikonduktor ini akan menarik investasi lanjutan dari para produsen baterai dan komponen sekunder global. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik buatan Indonesia diproyeksikan melonjak tembus 70 persen pada akhir tahun anggaran mendatang.