Krisis Kahutla Meluas, Imbauan Kemenkes Waspada Bahaya Kandungan Zat Kimia Kabut Asap
Eskalasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tujuh provinsi Indonesia memicu ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Berdasarkan laporan resmi Public Health Emergency Operations Centre (PHEOC) Kementerian Kesehatan RI, tercatat lebih dari 277 ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), di mana lebih dari 62 ribu penderitanya adalah balita. Peningkatan kasus ini sejalan dengan lonjakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang tercatat di stasiun pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) serta analisis bahaya partikel PM2.5 dari BMKG.
Jakarta | Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung tujuh provinsi di Sumatra dan Kalimantan memicu darurat kesehatan masyarakat pada pertengahan Oktober 2026. Data terbaru Kementerian Kesehatan RI mencatat lebih dari 62 ribu balita terinfeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat tingginya konsentrasi racun partikel halus (PM2.5) di udara. Sebagai bentuk penanganan darurat, Kemenkes menyalurkan jutaan masker medis serta memperkuat layanan kesehatan dasar di daerah-daerah yang tercatat berstatus berbahaya oleh Stasiun Pemantauan ISPU KLH/BPLH.
Dampak krisis lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kian mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa paparan asap pembakaran lahan berisiko tinggi mengganggu kesehatan lebih dari 13 juta warga di berbagai daerah yang kini menetapkan status siaga dan tanggap darurat.
Berdasarkan pendataan Public Health Emergency Operations Centre (PHEOC) Kemenkes per 11 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB, tercatat sebanyak 277.075 kasus ISPA yang tersebar di 63 kabupaten/kota pada 7 provinsi terdampak. Dari total angka penderita tersebut, data spesifik Kemenkes menunjukkan sebanyak 62.400 kasus menyerang kelompok balita usia 0 hingga 5 tahun.
Melalui rilis di akun Instagram resminya, Kementerian Kesehatan memperingatkan bahaya kandungan zat kimia yang terbawa oleh kabut asap. “Asap Karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Paparannya dapat menyebabkan ISPA, iritasi mata/kulit, perburukan Asma dan PPOK, serta peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke,” tulis Kemenkes. Pihaknya mengimbau agar perlindungan diprioritaskan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta para pekerja luar ruangan.
Guna meminimalkan dampak buruk polusi udara terhadap saluran pernapasan warga, pemerintah mulai mengencangkan respons medis di lapangan. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyatakan bahwa jutaan bantuan alat pelindung diri telah dikirimkan ke titik-titik krisis.
“Ini akan kita tambah lagi sesuai dengan kebutuhan yang ada. Kemudian penanganan-penanganan kasus infeksi saluran pernapasan atas, itu juga akan kita lakukan,” ujar Wamenkes Dante saat memberikan keterangan kepada awak media di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan. Selain memperbanyak pasokan masker hingga lebih dari 5,3 juta unit, Kemenkes juga mengoptimalkan fasilitas pelayanan kesehatan dan memperkuat sistem pengawasan (surveillance) penyakit di daerah bencana.
Dari situs resmi Kemenkes, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Kementerian Kesehatan terus berupaya melindungi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak kabut asap. Meski tidak dapat menghentikan sumber asap, Kemenkes memastikan upaya pencegahan dan penanganan gangguan kesehatan akibat paparan asap dilakukan, termasuk melalui penyediaan obat-obatan di puskesmas wilayah terdampak.
“Pesan saya, terutama untuk kelompok rentan, jangan keluar rumah. Kalau terpaksa keluar, sebisa mungkin biarkan anggota keluarga yang tidak rentan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Menkes saat memberikan keterangan kepada media di Kemendagri, pada Kamis (15/10/2026).
Menkes Budi menjelaskan, paparan asap perlu dicegah karena dapat berdampak pada saluran pernapasan, mata, dan kulit. Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker, terutama masker N95 jika tersedia. Masyarakat juga disarankan memakai kacamata untuk melindungi mata serta pakaian berlengan panjang untuk mengurangi paparan partikel asap pada kulit.