Intip Rincian Indikator Ekonomi Makro RI Terbaru
JAKARTA | Pasar keuangan Indonesia mengawali perdagangan Oktober 2026 di bawah bayang-bayang ketegangan geopolitik global dan dinamika reshuffle kabinet domestik. Meski demikian, deretan data statistik fundamental ekonomi makro nasional menunjukkan fondasi Indonesia yang tetap relatif tangguh dan terjaga, Jum’at (02/10/26).
Berdasarkan data statistik indikator ekonomi Indonesia terkini, berikut adalah potret ketahanan makro ekonomi nasional yang menjadi benteng pertahanan pasar domestik:
Tabel Indikator Ekonomi Indonesia Terkini:
• Pertumbuhan Ekonomi (Q2-2026 YoY): 5,29%
• Inflasi (September 2026 YoY): 3,28%
• BI Rate (September 2026): 5,75%
• Defisit Anggaran APBN (Agustus 2026): 0,9% dari PDB
• Defisit Transaksi Berjalan (Q2 2026): 3,3% dari PDB
• Defisit Neraca Pembayaran Indonesia (Q2 2026): US$ 0,9 miliar
• Cadangan Devisa (Agustus 2026): US$ 146,5 miliar
Di tengah fondasi makro yang solid tersebut, pergerakan IHSG, Rupiah, dan SBN hari ini (2/10/2026) masih dibayangi oleh 13 poin sentimen utama:
• Inflasi Domestik Terjaga: BPS mencatat inflasi September sebesar 0,30% (mtm) atau 3,28% (yoy), sejalan dengan target Bank Indonesia (1,5%–3,5%).
• Surplus Neraca Perdagangan: Neraca dagang Agustus tetap surplus US$3,55 miliar berkat lonjakan ekspor nikel dan aluminium.
• Ekspansi Sektor Manufaktur RI: PMI Manufaktur Indonesia melompat ke level 52,4 pada September, tertinggi dalam 7 bulan.
• Reshuffle Kabinet Merah Putih: Pelantikan jajaran menteri baru oleh Presiden Prabowo, termasuk Bahlil Lahadalia sebagai Menko Hilirisasi & Transisi Energi.
• Aturan Baru Short Selling: BEI resmi membuka perdagangan short selling terbatas pada 5 saham blue chip (ASII, BBCA, BRPT, BUMI, INDF).
• Minyak Mentah Membara: Harga minyak Brent menembus US$102,31/barel dipicu rencana penambahan militer AS ke Timur Tengah dan penghentian ekspor minyak China.
• Bunga Utang Global Melonjak:Yield US Treasury 10-tahun melambung hingga 5,34% (tertinggi sejak 2002), menyedot likuiditas pasar berkembang.
• Dinamika Wall Street: Bursa saham AS menguat tipis setelah kenaikan yield obligasi mulai tertahan kelelahan pasar.
• Klaim Pengangguran AS Turun: Jumlah klaim tunjangan pengangguran AS melandai ke 197.000, menandakan pasar kerja AS masih cukup solid.
• Sektor Manufaktur AS Berekspansi: Indeks ISM Manufacturing AS bertahan di level 54,5 meski dibayangi lonjakan biaya akibat energi dan tarif.
• Rilis Data Pengangguran Jepang: Investor menantikan data ketenagakerjaan Jepang periode Agustus untuk menakar arah suku bunga Bank of Japan (BoJ).
• Estimasi Inflasi Zona Euro: Publikasi data inflasi Eropa September yang menjadi sinyal kebijakan pemangkasan suku bunga ECB.
• Laporan Non-Farm Payrolls (NFP) AS: Pasar menantikan rilis data NFP September malam ini sebagai penentu arah kebijakan suku bunga The Fed.