Darurat Kabut Asap, Pemko Padang Alihkan Sekolah ke Daring
Shinzennews.com ║ Padang – Sejumlah wilayah di Sumatera Barat diliputi kabut asap kiriman yang memicu penurunan kualitas udara, lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta terdeteksinya 118 titik panas di berbagai kabupaten dan kota pada awal September 2026.
Kabut asap kiriman dari provinsi tetangga yang mulai menyelimuti wilayah Sumatera Barat telah memicu penurunan kualitas udara yang signifikan. Daerah yang terpapar paling parah berada di wilayah bagian timur, seperti Kota Sawah Lunto, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Dharmasraya, dan Kabupaten 50 Kota. Penurunan kualitas udara ini berdampak lurus pada peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Di Kota Padang sendiri, tercatat peningkatan kasus ISPA yang dilaporkan mencapai sekitar 600 kasus dalam beberapa hari terakhir. Menyikapi penurunan kualitas udara tersebut, pemerintah daerah di Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Dharmasraya telah mengambil langkah tegas.
PADANG — Pemerintah Kota Padang secara resmi mengalihkan kegiatan belajar mengajar dari tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring bagi jenjang pendidikan PAUD hingga SMP mulai tanggal 9 hingga 11 September 2026. Kebijakan darurat ini diambil menyusul kian memburuknya kualitas udara akibat pekatnya kabut asap kiriman yang dikategorikan berbahaya bagi kesehatan anak-anak.
Berdasarkan surat edaran resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang yang diterbitkan pada 8 September 2026, keputusan ini diambil setelah indeks kualitas udara menunjukkan peningkatan risiko kesehatan yang signifikan dengan parameter partikulat halus yang tinggi. Pihak pemerintah daerah menginstruksikan agar seluruh sekolah mematuhi kebijakan penyesuaian sistem belajar demi melindungi kesehatan para peserta didik dari dampak buruk polusi udara.
Hal ini diberitahukan melalui Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Nomor: 400.3/1/SE/DKPS-PDG/2026, Tentang, Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PPJ/Daring Akibat Kondisi Kabut Asap yang terjadi di wilayah kota Padang saat ini. Perubahan sistem belajar yang mendadak tersebut mendapat beragam tanggapan dari para orang tua murid. Salah seorang wali murid di Kota Padang mengungkapkan dukungannya terhadap langkah cepat pemerintah demi keselamatan kesehatan anak-anak mereka di tengah kepungan kabut asap.
“Memang belajar daring ini tidak seefektif belajar langsung. Namun, untuk kondisi sekarang, yang lebih penting adalah menjaga kesehatan anak-anak dari paparan kabut asap,” ujar salah satu wali murid saat dikonfirmasi mengenai pelaksanaan sekolah daring tersebut.
Meskipun kegiatan belajar dialihkan ke rumah masing-masing, pihak sekolah tetap diwajibkan memastikan materi pembelajaran tersampaikan secara proporsional dan tidak memberatkan peserta didik. Keaktifan para siswa selama mengikuti proses pembelajaran jarak jauh ini tetap diperhitungkan sebagai bagian dari presensi kehadiran resmi di sekolah. Sementara, Kepala Sekolah, Guru dan Tendik tetap masuk sekolah, PJJ/Daring dilaksanakan dari sekolah dengan memanfaatkan platform digital atau media komunikasi yang disesuaikan.
Selain meliburkan aktivitas tatap muka di ruang kelas, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang juga secara khusus mengimbau para orang tua agar proaktif mengawasi anak-anaknya untuk tetap berada di dalam rumah selama jam-jam belajar. Masyarakat secara luas turut diminta untuk membatasi aktivitas fisik di luar ruangan serta mengenakan masker pelindung apabila terpaksa harus beraktivitas di luar rumah guna menghindari risiko infeksi saluran pernapasan akut.
Dari hasil ground check yang dilakukan petugas ke lokasi, terungkap bahwa kemunculan anomali panas tersebut diakibatkan oleh aktivitas pembakaran yang dilakukan masyarakat, terutama pada lahan perladangan dan perkebunan mereka.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menyatakan bahwa pihak Pemerintah Provinsi Sumbar telah meminta Dinas Kehutanan untuk memperketat pengawasan harian terhadap titik api di kawasan hutan agar segera diintervensi sebelum berkembang. Gubernur juga berencana menyurati pemerintah pusat agar mendorong pemerintah daerah di provinsi tetangga agar lebih tegas menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
“Saya sudah tegaskan kepada Dinas Kehutanan di Sumatera Barat itu untuk betul-betul melakukan pengawasan terhadap titik api dan setiap hari kan ada pengawasan. Nah, itu segera diapa diintervensi sehingga tidak berkembang.” ujar Mahyeldi.
Mengingat peringatan BMKG berkaitan dengan fenomena El Nino, masyarakat diimbau untuk menyikapi situasi ini dengan bijak melalui penerapan pengolahan lahan tanpa bakar. Pembakaran lahan yang tidak terkendali dinilai dapat menyebabkan dampak luar biasa yang mengganggu pemukiman serta aktivitas sosial ekonomi. Warga juga diingatkan untuk menjaga daya tahan tubuh dengan memperbanyak minum air putih minimal 8 gelas per hari serta mengonsumsi makanan bergizi, dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.°°°