Kabut Asap Karhutla Mencekam Jambi, Tiga Lokasi Tidak Bisa Dijangkau Operasi Darat
Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membakar wilayah Provinsi Jambi, khususnya area lahan gambut, terus memperburuk kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Memasuki pertengahan Oktober 2026, indeks kualitas udara berada dalam kategori berbahaya. Bencana asap ini memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menembus belasan ribu warga, mengganggu penerbangan, serta memaksa pemerintah daerah menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) bagi kelompok rentan. Kondisi ini mendesak Satgas Karhutla dan Pemerintah Kota Jambi untuk memperketat imbauan keselamatan dan menyiapkan penanganan medis darurat bagi masyarakat terdampak
Jambi | Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Provinsi Jambi memicu krisis kesehatan dan melumpuhkan sektor aktivitas publik sepanjang Oktober 2026. Paparan kabut asap pekat yang menyelimuti Kota Jambi dan sekitarnya telah menyebabkan lebih dari 11 ribu warga terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), merusak kualitas udara hingga level berbahaya, serta mengganggu operasional penerbangan dan moda transportasi, pada Rabu (14/10).
Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi memasuki fase krisis. Kepulan asap hitam dan abu sisa pembakaran lahan gambut terus berhembus menyelimuti kawasan pemukiman hingga fasilitas umum, menyebabkan indeks kualitas udara (AQI) melonjak tajam melewati batas aman standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ancaman terbesar akibat kabut asap ini langsung memukul sektor kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan mencatat angka penderita ISPA bergerak naik secara signifikan. Warga Kota Jambi mengeluhkan gangguan pernapasan serta iritasi mata mendalam saat beraktivitas di luar rumah. “Saat mengendarai kendaraan di jalan, mata terasa sangat perih akibat asap. Bau bekas kebakaran lahan juga menyengat di hidung dan tenggorokan terasa sakit,” ungkap salah seorang warga Kota Jambi.
Dampak karhutla tidak hanya melumpuhkan kesehatan warga, tetapi juga merembet ke sektor logistik dan perhubungan. Jarak pandang (visibility) yang memburuk di bawah ambang batas aman penerbangan memaksa sejumlah maskapai menunda (delay) hingga mengalihkan jadwal penerbangan dari dan ke Bandara Sultan Thaha Jambi.
Menanggapi memburuknya situasi, Pemerintah Kota Jambi langsung mengambil tindakan protektif dengan memberlakukan skema bekerja dari rumah (work from home) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sedang hamil dan menderita ISPA. Fasilitas kesehatan dan puskesmas disiagakan 24 jam untuk melayani masyarakat terdampak kabut asap. Pemerintah Provinsi Jambi bersama Satgas Terpadu Karhutla terus memfokuskan upaya pemadaman darat dan udara (water bombing) di titik-titik krisis kebakaran lahan gambut. Gubernur Jambi, Al Haris, mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar di tengah cuaca kemarau.
“Kita meminta masyarakat jangan membuka lahan dengan cara dibakar. Kalau melihat titik api atau asap, segera laporkan. Pencegahan lebih baik daripada kita harus menghadapi kebakaran yang sudah meluas,” tegas Al Haris.
Selain itu, Bachyuni Deliansyah, Kalaksa BPBD Provinsi Jambi mengatakan,
“Pak Gubernur sudah menghubungi langsung ke Jakarta untuk meminta bantuan satu helikopter Puma Super Puma untuk bisa mengangkut personil dan peralatan ke daerah yang memang akses jalannya tidak ada, dalam upaya mempercepat melakukan pemadaman, dan kita juga sudah melakukan upaya notifikasi cuaca walaupun memang hasilnya belum sempurna, tapi terus kita lakukan begitu ada bibit”, ujar Bachyuni.
Saat ini dari hitungan dan laporan dari masing-masing kabupaten, kurang lebih 4.335 hektar titik api yang sudah dipadamkan. Sekarang ada tiga titik api, di Kayu Hitam, Labuhan Pering dan Tanjung Timur, yang memang agak sulit dijangkau tim darat untuk menuju lokasi, maka dibutuhkan bantuan dari pemerintah pusat, helikopter Super Puma agar kondisi kahutla di Jambi dapat cepat diatasi.
“Untuk efektifitasnya, kalau OMC untuk beberapa bari ke depan sama-sama kita lihat udara sudah mulai membaik, karena ada daerah-daerah yang terbakar itu karena OMC, terjadi hujan, bisa padam. Tetapi ada daerah yang dilakukan OMC tidak kena pada lokasi yang terbakar, contoh di daerah Tahura, Sungai Rambat, dan Labuhan Pering. Tiga daerah ini kita prioritaskan untuk melakukan penebalan personil. Penebalan personil ini tidak bisa dilakukan melalui operasi darat, maka kita membutuhkan mengangkut personil dengan helikopter Super Puma untuk diturunkan di lokasi tersebut, sehingga nanti tim dapat bekerja dengan baik”, papar Kalaksa.