Kemenkes Terapkan Teknologi AI untuk Deteksi Dini Penyakit TB
Kementerian Kesehatan RI resmi memulai penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem diagnostik penyakit Tuberkulosis (TB). Teknologi ini memanfaatkan analisis pencitraan sinar-X dada untuk mendeteksi tingkat keparahan penyakit secara cepat, sehingga tenaga medis dapat memberikan penanganan lebih tepat waktu di tengah keterbatasan dokter spesialis radiologi.
Jakarta – Kementerian Kesehatan RI resmi menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dari Qure.ai sebagai alat bantu deteksi dini Tuberkulosis (TB) melalui analisis pencitraan sinar-X dada yang dimulai dengan proyek percontohan di RS Fatmawati dan RS Pusat Otak Nasional sebelum diperluas ke seluruh Indonesia, pada 28 Februari 2025 dengan cara mendeteksi anomali pada hasil rontgen secara otomatis untuk mempercepat diagnosis dan memperkuat surveilans penyakit nasional, demi mengatasi keterbatasan dokter spesialis radiologi serta menekan angka kematian akibat TB yang masih tinggi.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari transformasi digital sektor kesehatan untuk meningkatkan efisiensi layanan dan mempercepat diagnosis. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam sistem kesehatan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi pasien maupun tenaga medis.
“Teknologi berbasis AI ini akan membuka peluang besar untuk menganalisis data medis dengan lebih cepat dan akurat,” ujar Menkes saat menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Jakarta
Deteksi Lebih Cepat dan Akurat
Dalam kerja sama ini, AI dari Qure.ai akan digunakan untuk mendeteksi TB dan penyakit lainnya melalui analisis pencitraan sinar-X dada di fasilitas kesehatan yang ditunjuk oleh Kemenkes. Sistem ini mampu membaca pola anomali pada citra rontgen dan memberikan indikasi awal mengenai tingkat keparahan penyakit.
Selain sebagai alat diagnostik, kerja sama ini juga mencakup pengembangan sistem manajemen dan pelaporan pasien terpusat. Sistem ini dirancang untuk memperkuat surveilans penyakit secara nasional sekaligus mendukung layanan teleradiologi, sehingga tenaga medis di berbagai daerah dapat mengakses hasil skrining secara real-time.
Tahap Uji Coba di Rumah Sakit Rujukan
Sebagai tahap awal, Kemenkes akan mengimplementasikan proyek percontohan (pilot project) di RS Fatmawati dan RS Pusat Otak Nasional. Jika proyek ini dinyatakan berhasil, teknologi AI tersebut akan diperluas ke lebih banyak fasilitas kesehatan yang ditunjuk di seluruh Indonesia.
Kerja sama ini juga mencakup pengembangan kapasitas lewat pelatihan dan dukungan teknis bagi tenaga kesehatan serta profesional teknologi informasi.
Visi Digitalisasi Kesehatan Nasional
Adopsi AI ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mendigitalisasi seluruh data kesehatan. Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan, Setiaji, sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah sedang berupaya agar seluruh data kesehatan dapat terdigitalisasi sehingga pelayanan kesehatan berbasis elektronik bisa terwujud secara optimal.
Ia mengibaratkan kondisi AI di bidang kesehatan saat ini seperti perbankan 30 tahun lalu, ketika industri keuangan mulai mendigitalkan datanya. Visi pemerintah adalah terciptanya data kesehatan digital yang terintegrasi sekaligus terlindungi, termasuk merekam data kesehatan masyarakat sejak masih dalam kandungan seiring upaya penanganan stunting.
Beberapa rumah sakit di Jakarta, Surabaya, dan Bandung juga telah mulai mengintegrasikan AI untuk diagnosis dini, misalnya deteksi kanker melalui citra radiologi dan manajemen data pasien.