Kemenkes Terapkan HPV DNA untuk Skrining Kanker Serviks
Kementerian Kesehatan RI resmi memulai uji coba metode deteksi dini kanker leher rahim berbasis HPV DNA pada awal Februari 2023. Metode ini diklaim lebih akurat dibandingkan cara lama dan menjadi langkah strategis pemerintah untuk menekan angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia.
Jakarta, 2 Februari 2023 – Kementerian Kesehatan (Siapa) secara resmi menerapkan metode HPV DNA sebagai teknologi baru skrining kanker leher rahim (Apa) yang dimulai dengan tahap uji coba di wilayah DKI Jakarta (Di mana) pada bulan ini (Kapan) guna menemukan stadium kanker lebih dini dan cepat dibandingkan metode IVA konvensional (Bagaimana), menyusul masih tingginya kasus kanker leher rahim serta dominasi pasien yang baru berobat saat kondisi sudah stadium lanjut (Mengapa).
Untuk mempercepat deteksi dini kanker leher rahim, mulai tahun 2023 Kementerian Kesehatan akan menggunakan metode HPV DNA dengan memanfaatkan tes PCR yang telah dimiliki. Langkah ini merupakan upaya agar stadium kanker dapat ditemukan jauh lebih cepat https://tirto.id/daftar-hari-besar-kesehatan-januari-hingga-bulan-desember-2023-gz7c.
“Langkah ini menemukan lebih dini lagi stadium kankernya dibandingkan IVA, mulai bulan ini piloting di DKI Jakarta, mulai diterapkan teknologi terbarunya,” ungkap Direktur Jenderal P2P Kementerian Kesehatan, dr. Maxi Rein Rondonuwu https://tirto.id/daftar-hari-besar-kesehatan-januari-hingga-bulan-desember-2023-gz7c.
Tahap Uji Coba di DKI Jakarta
Pada tahap awal, program deteksi dengan HPV DNA dilakukan di Provinsi DKI Jakarta meliputi Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat, Selatan, Barat, Timur, dan Utara dengan target 8.000 tes. Lokasi Ibu Kota dipilih dengan pertimbangan ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, pemerataan SDM, cakupan pemeriksaan IVA yang relatif lebih baik, serta dukungan pemerintah daerah https://tirto.id/daftar-hari-besar-kesehatan-januari-hingga-bulan-desember-2023-gz7c.
Meski demikian, metode lama yaitu IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) tetap diterapkan, khususnya bagi wanita usia 30–50 tahun yang pernah berhubungan seksual, dengan interval pemeriksaan setiap tiga tahun sekali https://tirto.id/daftar-hari-besar-kesehatan-januari-hingga-bulan-desember-2023-gz7c.
Latar Belakang Data Kasus
Berdasarkan data RS Kanker Dharmais, dari pasien kanker payudara yang menjalani pengobatan, sebanyak 72,3% merupakan kasus stadium lanjut (stadium 3 ke atas) https://cisdi.org/siaran-pers/rekomendasi-kebijakan-kesehatan-2023. Kondisi serupa terjadi pada kanker serviks, di mana sebagian besar pasien baru terdeteksi saat penyakit sudah parah sehingga menurunkan peluang kesembuhan.
Spesialis Bedah Onkologi Konsultan RS Kanker Dharmais, dr. Rian Fabian Sofya, menegaskan bahwa semakin tinggi stadium kanker, semakin rendah angka bertahan hidup pasien. “Untuk pasien stadium 3, tingkat kesintasan (bertahan hidup) 10 tahun kurang dari 50%,” ujarnya https://tirto.id/daftar-hari-besar-kesehatan-januari-hingga-bulan-desember-2023-gz7c.
Dengan penerapan HPV DNA, pemerintah berharap penanganan kanker serviks dapat dilakukan sejak stadium awal sehingga angka kesembuhan meningkat dan angka kematian menurun.