Perusahaan Intelijen Israel Kepergok Gunakan Iklan Digital untuk Sadap HP Jurnalis
Laporan riset keamanan siber dan investigasi media internasional membongkar taktik baru peretasan canggih yang melibatkan perusahaan intelijen siber asal Israel. Berbeda dengan metode retas tradisional yang membutuhkan tautan atau pesan teks, skema baru ini memanfaatkan jaringan jaringan iklan digital (AdTech) untuk menyisipkan malware penyadap (spyware) secara tak terlihat ke dalam ponsel target. Jurnalis investigasi, aktivis hak asasi manusia, dan pejabat pemerintah menjadi sasaran utama dari praktik mata-mata berbasis iklan (malvertising) ini.
Washingthon D.C | Dunia siber internasional digemparkan oleh pengungkapan metode peretasan terbaru yang dimanfaatkan oleh sejumlah perusahaan intelijen pertahanan swasta asal Israel. Menggunakan teknologi pengawasan berbasis iklan (AdTech intelligence), para peretas dapat menargetkan dan menginfeksi ponsel pintar milik jurnalis serta aktivis global hanya melalui tayangan iklan digital di aplikasi atau situs web berita tanpa memerlukan interaksi atau klik dari korban. Temuan ini memicu kecaman keras dari organisasi kebebasan pers dunia yang menilai teknologi tersebut sebagai ancaman mematikan bagi keselamatan kerja jurnalisme investigatif.
Perkembangan teknologi penyadapan siber telah memasuki ranah yang semakin mengkhawatirkan. Laporan riset dari laboratorium keamanan siber internasional (Citizen Lab dan Amnesty Tech) mengungkapkan bahwa jejaring iklan komersial yang sehari-hari muncul di ponsel masyarakat kini telah disalahgunakan sebagai sarana mata-mata militer.
Sejumlah perusahaan teknologi siber yang berbasis di Israel dilaporkan mengembangkan ekosistem peretasan bernama ADINT (Advertising Intelligence). Melalui sistem ini, klien pemerintahan dapat membeli ruang iklan yang ditargetkan secara sangat spesifik berdasarkan lokasi GPS, nomor IP, atau identitas perangkat (Ad-ID) milik jurnalis target.
Metode penyadapan melalui iklan digital ini dinilai sangat berbahaya karena beberapa alasan teknis:
• Targeting Presisi Tinggi: Peretas memanfaatkan data pemasaran digital (programmatic advertising) untuk mengidentifikasi perangkat yang dipegang oleh jurnalis tertentu saat berada di lokasi tertentu.
• Eksploitasi Tanpa Klik (Zero-Click/Drive-by Download): Ketika iklan terisi dan dimuat di layar ponsel korban saat membuka aplikasi berita atau media sosial, kode jahat (malware) dapat langsung mengeksploitasi celah keamanan pada peramban (browser) atau sistem operasi ponsel tanpa perlu korban mengklik iklan tersebut.
• Akses Penuh Perangkat: Setelah perangkat terinfeksi, spyware dapat mengambil alih kontrol ponsel, mengunduh riwayat obrolan terekskripsi (WhatsApp/Signal), melacak lokasi real-time, memantau mikrofon, hingga mengunduh dokumen rahasia sumber berita jurnalis.
Organisasi perlindungan jurnalis internasional (Committee to Protect Journalists / CPJ) menyatakan keprihatinan mendalam atas temuan ini. Praktik penyadapan via iklan dinilai merusak fondasi perlindungan kerahasiaan sumber berita (source protection).
“Ini adalah serangan brutal terhadap kebebasan pers. Ketika jurnalis tidak lagi bisa memastikan keamanan ponsel mereka saat membaca berita atau menggunakan aplikasi sehari-hari, keselamatan sumber berita mereka menjadi sangat terancam,” ungkap perwakilan lembaga hak asasi manusia internasional.
Menanggapi bocornya taktik ini, raksasa teknologi seperti Google dan Apple terus memperketat fitur keamanan sistem operasi mereka. Google dan platform penyedia iklan utama mulai memblokir akun pendaftar iklan ilegal yang terindikasi memiliki aktivitas mencurigakan.
Para pakar keamanan siber mengimbau para jurnalis dan pekerja media yang menangani isu-isu sensitif untuk menggunakan fitur pemblokir iklan (Ad-Blocker) terpercaya pada peramban ponsel, Mengaktifkan mode keamanan tertinggi (seperti Lockdown Mode pada perangkat iOS/Apple), dan mengubah Advertising ID secara berkala di pengaturan privasi ponsel untuk menyulitkan penargetan iklan.
Iklan siber berbahaya yang mengandung perangkat penyadap (spyware) buatan perusahaan Israel baru-baru ini dibongkar oleh lembaga riset keamanan Citizen Lab dan Confiant pada Oktober 2026.