Sumbar Dikepung Kabut Asap; Ratusan Hotspot Terdeteksi dan Picu Lonjakan ISPA
Shinzennews.com ║ Padang – Sejumlah wilayah di Sumatera Barat diliputi kabut asap kiriman yang memicu penurunan kualitas udara, lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta terdeteksinya 118 titik panas di berbagai kabupaten dan kota pada awal September 2026.
Kabut asap kiriman dari provinsi tetangga yang mulai menyelimuti wilayah Sumatera Barat telah memicu penurunan kualitas udara yang signifikan. Daerah yang terpapar paling parah berada di wilayah bagian timur, seperti Kota Sawah Lunto, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Dharmasraya, dan Kabupaten 50 Kota. Penurunan kualitas udara ini berdampak lurus pada peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Di Kota Padang sendiri, tercatat peningkatan kasus ISPA yang dilaporkan mencapai sekitar 600 kasus dalam beberapa hari terakhir. Menyikapi penurunan kualitas udara tersebut, pemerintah daerah di Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Dharmasraya telah mengambil langkah tegas.
Situasi darurat ini semakin diperkuat dengan temuan data resmi yang mendeteksi sebanyak 118 titik panas atau hotspot tersebar di 12 kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Sebaran titik panas ini terkonsentrasi di sejumlah wilayah dengan potensi kebakaran lahan dan hutan yang tinggi, mencakup Pesisir Selatan yang mencatat 70 titik hotspot (31,4%) dan Pasaman Barat dengan 51 titik hotspot (22,9%). Berdasarkan data pemantauan, rincian titik hotspot paling menonjol tercatat di Sungai Beremas dengan 47 titik, Kamang Baru 21 titik, Timpeh 19 titik, Lunang 18 titik, serta Ranah Ampek Hulu Tapan 17 titik.
Dari hasil ground check yang dilakukan petugas ke lokasi, terungkap bahwa kemunculan anomali panas tersebut diakibatkan oleh aktivitas pembakaran yang dilakukan masyarakat, terutama pada lahan perladangan dan perkebunan mereka.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menyatakan bahwa pihak Pemerintah Provinsi Sumbar telah meminta Dinas Kehutanan untuk memperketat pengawasan harian terhadap titik api di kawasan hutan agar segera diintervensi sebelum berkembang. Gubernur juga berencana menyurati pemerintah pusat agar mendorong pemerintah daerah di provinsi tetangga agar lebih tegas menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
“Saya sudah tegaskan kepada Dinas Kehutanan di Sumatera Barat itu untuk betul-betul melakukan pengawasan terhadap titik api dan setiap hari kan ada pengawasan. Nah, itu segera diapa diintervensi sehingga tidak berkembang.” ujar Mahyeldi.
Mengingat peringatan BMKG berkaitan dengan fenomena El Nino, masyarakat diimbau untuk menyikapi situasi ini dengan bijak melalui penerapan pengolahan lahan tanpa bakar. Pembakaran lahan yang tidak terkendali dinilai dapat menyebabkan dampak luar biasa yang mengganggu pemukiman serta aktivitas sosial ekonomi. Warga juga diingatkan untuk menjaga daya tahan tubuh dengan memperbanyak minum air putih minimal 8 gelas per hari serta mengonsumsi makanan bergizi, dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.