Kepung Kapuas Hulu: Kebakaran Hutan dan Lahan Ancam Kesehatan Warga
shinzennews.com | Kapuas Hulu ~ Memasuki pekan kedua September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas Hulu bersama tim gabungan Manggala Agni berjibaku memadamkan titik-titik api yang kian meluas di sejumlah titik rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat. Bencana tahunan yang dipicu oleh kombinasi cuaca panas terik dan minimnya curah hujan ini mulai menimbulkan kabut asap tipis yang menyelimuti kawasan pemukiman warga sejak pagi hingga menjelang sore hari.
Upaya penanggulangan darurat langsung digerakkan secara masif oleh pemerintah daerah setempat sejak titik api pertama kali terdeteksi melalui pantauan satelit cuaca pada Selasa (08/09/2026). Tim gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, masyarakat peduli api, serta relawan lingkungan dikerahkan langsung ke lokasi-lokasi terpencil yang sulit dijangkau menggunakan kendaraan darat.
Kendala utama yang dihadapi oleh para petugas di lapangan adalah ketiadaan sumber air bersih di sekitar titik api serta akses jalan tanah gambut yang kering dan mudah terbakar di bagian bawah permukaannya. Meski demikian, operasi pemadaman darat menggunakan pompa jinjing dan pembuatan sekat bakar terus digencarkan secara beruntun tanpa kenal lelah demi mencegah perluasan kobaran api ke kawasan hutan lindung.
Dampak langsung dari kepungan asap karhutla ini mulai dirasakan oleh kesehatan masyarakat sekitar, terutama anak-anak dan lansia yang rentan terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dilansir CNBC Indonesia (10/09/26), lonjakan kunjungan pasien dengan keluhan sesak napas dan iritasi mata tercatat meningkat signifikan di berbagai pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) pembantu di wilayah terdampak.
Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan setempat lantas bergerak cepat membagikan ribuan masker gratis kepada para pengendara di jalan raya serta mengimbau warga agar mengurangi aktivitas luar ruangan. Sosialisasi terkait bahaya asap beracun serta larangan keras membuka lahan dengan cara membakar juga digencarkan melalui perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat.
Ancaman kerusakan ekosistem flora dan fauna khas hutan Kalimantan juga menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para aktivis lingkungan hidup di tingkat regional maupun nasional. Habitat satwa liar yang dilindungi dikhawatirkan terdesak akibat kepungan api yang merusak puluhan hektare kawasan hutan sekunder dalam kurun waktu beberapa hari terakhir.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pihak berwenang menegaskan akan memperketat pengawasan hukum terhadap oknum-oknum yang sengaja membersihkan lahan perkebunan dengan metode pembakaran liar. Penegakan hukum yang tegas dinilai menjadi kunci utama untuk memberikan efek jera agar bencana ekologis ini tidak terus berulang setiap tahunnya.
Pihak BPBD Kalimantan Barat berharap dukungan doa serta kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan segera melaporkan jika menemukan titik api sekecil apa pun. Sinergi antara pemerintah, aparat, dan warga diyakini menjadi benteng terkuat dalam memulihkan kondisi udara dan menghentikan laju karhutla di bumi Borneo.