Oktober Pasar Keuangan RI Tertekan; Reshuffle Kabinet dan Ketegangan Global Membayang
JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia mengawali perdagangan Oktober 2026 di zona merah pada Kamis (1/10/2026), akibat tekanan ganda dari gejolak geopolitik global serta penyesuaian arah kebijakan domestik menyusul perombakan kabinet oleh Presiden Prabowo Subianto.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot 1,02% ke level 6.009,50, yang menjadi posisi penutupan terendah dalam lebih dari dua bulan terakhir. Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,39% ke posisi Rp17.940 per dolar AS, sementara imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi 7,159%.
Tekanan di pasar domestik terjadi di tengah kombinasi sentimen eksternal dan internal:
• Geopolitik dan Lonjakan Harga Minyak: Konflik antara AS-Israel dengan Iran memicu penguatan dolar AS dan kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun hingga 5,33% (tertinggi sejak 2002). Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah akibat pembatasan ekspor dari China dan peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah.
• Perombakan Kabinet (Reshuffle): Pelantikan menteri dan pejabat baru oleh Presiden Prabowo Subianto—termasuk Bahlil Lahadalia sebagai Menko Hilirisasi & Transisi Energi serta Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan—menjadi perhatian utama para investor dalam menakar arah kebijakan ekonomi ke depan.
• Mulai Berlaku Transaksi Short Selling: Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memberlakukan mekanisme short selling untuk lima saham pilihan (ASII, BBCA, BRPT, BUMI, INDF) melalui dua perusahaan sekuritas yang ditunjuk.
• Indikator Makroekonomi Domestik: Di tengah tekanan pasar modal, sektor riil menunjukkan ketahanan. PMI Manufaktur Indonesia September 2026 melonjak ke level 52,4 (tertinggi dalam 7 bulan). BPS juga mencatat neraca perdagangan Agustus tetap surplus sebesar US$3,55 miliar, sementara inflasi tahunan September berada di level 3,28%.
Memasuki perdagangan Jumat (2/10/2026), pelaku pasar akan mencermati data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls), tingkat pengangguran Jepang, serta estimasi awal inflasi Zona Euro sebagai penentu arah pergerakan aset berisiko global.