PBB dan WHO Perkuat Upaya Global Hadapi Penyakit yang Ditularkan Nyamuk
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meningkatkan perhatian terhadap penyakit yang ditularkan nyamuk sepanjang 2015. Upaya internasional difokuskan pada penurunan kasus malaria, pengendalian penyakit tropis, serta pemantauan penyebaran virus Zika yang mulai teridentifikasi di kawasan Amerika.
Jenewa | Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat 214 juta kasus malaria dan sekitar 438.000 kematian akibat penyakit tersebut di seluruh dunia pada 2015. Angka itu menunjukkan bahwa malaria masih menjadi ancaman kesehatan global, meskipun berbagai program pencegahan dan pengobatan telah membantu menurunkan jumlah kasus serta kematian dalam 15 tahun sebelumnya, 9 Desember 2015.
Dalam laporan World Malaria Report 2015, WHO menyebutkan bahwa sekitar 90 persen kematian akibat malaria terjadi di kawasan Afrika. Nigeria dan Republik Demokratik Kongo menyumbang lebih dari sepertiga total kematian malaria di seluruh dunia.
WHO menyoroti masih adanya masyarakat yang belum memperoleh akses memadai terhadap kelambu berinsektisida, pemeriksaan diagnostik, dan obat antimalaria. Resistansi nyamuk terhadap insektisida juga menjadi tantangan bagi program pengendalian penyakit di sejumlah negara.
Pada September 2015, WHO dan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan bahwa target Tujuan Pembangunan Milenium untuk menekan kejadian malaria telah tercapai secara global. Namun, kedua organisasi tersebut menegaskan bahwa kemajuan itu belum berarti ancaman malaria telah berakhir.
Sekitar 3,2 miliar orang masih berada dalam risiko malaria pada 2015. Kelompok yang paling rentan meliputi anak-anak, perempuan hamil, dan masyarakat yang tinggal di daerah dengan akses layanan kesehatan terbatas.
WHO dan UNICEF menyerukan peningkatan upaya pencegahan, pemeriksaan, serta pengobatan agar penurunan kasus dan kematian dapat terus berlanjut. <Cite refs={[“turn924962search5″,”turn924962search1”]}/>
Selain malaria, WHO bersama Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO), yang merupakan kantor regional WHO untuk kawasan Amerika, memantau perkembangan virus Zika setelah penularan lokal teridentifikasi di Brasil pada 2015.
Pada Oktober 2015, Kolombia mengonfirmasi kasus Zika, sementara Brasil melaporkan peningkatan kasus mikrosefali pada bayi baru lahir. Pada November, pemerintah Brasil menetapkan keadaan darurat kesehatan masyarakat nasional setelah peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian serius.
Pada 17 November 2015, PAHO dan WHO mengeluarkan peringatan epidemiologi yang meminta negara-negara di kawasan Amerika meningkatkan pelaporan mikrosefali dan kelainan sistem saraf lainnya. Otoritas kesehatan juga diminta memperkuat pengawasan terhadap ibu hamil dan bayi baru lahir di wilayah dengan penularan Zika.
Pada akhir tahun, bukti mengenai hubungan Zika dengan komplikasi kehamilan dan gangguan neurologis masih terus diteliti. Karena itu, pemantauan kasus, pemeriksaan laboratorium, dan penyelidikan epidemiologi menjadi bagian penting dari respons internasional.
Pada November dan Desember 2015, WHO dan PAHO melibatkan jaringan Global Outbreak Alert and Response Network (GOARN) untuk membantu otoritas Brasil menyelidiki peningkatan kasus mikrosefali dan memahami kemungkinan keterkaitannya dengan infeksi Zika.
Jaringan tersebut menghubungkan berbagai lembaga kesehatan, laboratorium, ahli epidemiologi, dan organisasi internasional untuk mendukung respons terhadap kejadian penyakit yang berpotensi menimbulkan dampak lintas negara. <Cite refs={[“turn924962search31″,”turn924962search6”]}/>
Dukungan internasional diarahkan pada pengumpulan data, penyelidikan kasus, penguatan pengawasan, dan penyusunan langkah penanggulangan. Kerja sama tersebut menjadi penting karena informasi mengenai virus Zika dan dampaknya masih berkembang pada saat itu.
WHO menekankan pentingnya pengendalian populasi nyamuk dan perlindungan masyarakat dari gigitan sebagai bagian dari upaya menekan penularan penyakit. Langkah tersebut mencakup penghilangan tempat perkembangbiakan nyamuk, pengelolaan tempat penampungan air, serta penggunaan metode pengendalian vektor yang sesuai dengan kondisi setempat.
Untuk malaria, WHO mendorong perluasan penggunaan kelambu berinsektisida, penyemprotan insektisida di dalam rumah pada wilayah yang sesuai, pemeriksaan dini, dan pemberian pengobatan efektif.
Sementara itu, untuk penyakit seperti dengue, chikungunya, dan Zika, pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dari strategi pencegahan.
Sepanjang 2015, langkah PBB melalui WHO dan UNICEF memperlihatkan dua kebutuhan utama dalam menghadapi penyakit yang ditularkan nyamuk: mempertahankan kemajuan pengendalian malaria dan memperkuat respons terhadap ancaman penyakit yang sedang berkembang, termasuk Zika.
WHO terus mendorong pemerintah untuk meningkatkan kapasitas layanan kesehatan, memperkuat sistem pelaporan penyakit, dan memperluas akses terhadap tindakan pencegahan serta pengobatan.
Perkembangan pada tahun tersebut menunjukkan bahwa penanganan penyakit menular tidak dapat bergantung pada satu negara saja. Pertukaran informasi, dukungan teknis, penelitian, dan koordinasi internasional tetap diperlukan untuk mengurangi risiko penyebaran serta melindungi masyarakat di berbagai kawasan.
Sumber: WHO, World Malaria Report 2015; WHO dan UNICEF, laporan kemajuan pengendalian malaria, 17 September 2015; WHO, kronologi penyebaran virus Zika; serta PAHO/WHO, peringatan epidemiologi Zika, November–Desember 2015.
- WHO — World Malaria Report 2015
- WHO dan UNICEF — Kemajuan pengendalian malaria, 17 September 2015
- PAHO/WHO — Kronologi perkembangan Zika di Amerika
Catatan: WHO merupakan badan khusus PBB untuk kesehatan. Pada 2015, Zika belum dinyatakan sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC); status darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional tersebut baru diumumkan WHO pada 1 Februari 2016.