Penyakit yang Ditularkan Nyamuk Mengancam Berbagai Negara
Malaria, demam berdarah dengue, chikungunya, dan Zika menjadi perhatian otoritas kesehatan di berbagai negara sepanjang 2015. Beban malaria masih tinggi di Afrika, sementara dengue dan chikungunya terus menjadi masalah di wilayah tropis. Pada paruh kedua tahun tersebut, penyebaran Zika di Benua Amerika menambah tantangan dalam pengawasan penyakit menular.
Jenewa | Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia sepanjang 2015. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat 214 juta kasus baru malaria dan sekitar 438.000 kematian akibat penyakit tersebut pada tahun itu. Sekitar 90 persen kematian terjadi di kawasan Afrika, Desember 2015.
Nigeria dan Republik Demokratik Kongo menjadi dua negara dengan beban kematian malaria terbesar. Keterbatasan layanan kesehatan, kemiskinan, serta belum meratanya akses terhadap kelambu berinsektisida dan pengobatan masih menjadi kendala dalam pengendalian penyakit.
Meski demikian, WHO mencatat kemajuan dalam penurunan kasus dan kematian malaria dibandingkan tahun 2000. Perkembangan tersebut didukung oleh perluasan program pencegahan, penggunaan kelambu berinsektisida, pemeriksaan diagnostik, dan pengobatan yang efektif.
Di kawasan Asia, penyakit yang ditularkan nyamuk tetap menjadi tantangan kesehatan, terutama di negara-negara beriklim tropis. Demam berdarah dengue menjadi perhatian karena nyamuk Aedes dapat berkembang biak di lingkungan permukiman, khususnya di tempat penampungan air yang tidak tertutup.
Negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menghadapi risiko penularan dengue dan malaria di sejumlah wilayah. Tingkat risiko berbeda-beda menurut kondisi lingkungan, persebaran nyamuk, dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Dengue dapat menimbulkan demam tinggi, nyeri tubuh, dan dalam kasus berat menyebabkan perdarahan serta gangguan sirkulasi. Karena belum tersedia vaksin dengue yang digunakan secara luas untuk seluruh populasi pada 2015, pengendalian nyamuk dan deteksi dini tetap menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Di Brasil, laporan penyakit dengan gejala ruam pada awal 2015 mendorong penyelidikan terhadap kemungkinan infeksi virus Zika. Pada 29 April, laboratorium negara bagian Bahia melaporkan hasil sampel positif Zika, sebelum konfirmasi nasional diumumkan pada 7 Mei 2015.
Pada Oktober 2015, Brasil melaporkan penularan lokal Zika di 14 negara bagian. Pada periode yang sama, Kolombia juga melaporkan kasus yang dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Menjelang akhir tahun, sejumlah negara lain di Amerika Latin turut melaporkan penularan lokal. <Cite refs={[“turn838252search1″,”turn838252search3”]}/>
Pada November 2015, Brasil mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat setelah peningkatan kasus mikrosefali pada bayi baru lahir menjadi perhatian otoritas kesehatan. Hubungan antara infeksi Zika selama kehamilan dan kelainan perkembangan janin masih dalam penyelidikan pada periode tersebut. <Cite refs={[“turn838252search0″,”turn838252search5”]}/>
Penyebaran Zika tidak terbatas pada Brasil dan negara-negara Amerika Latin. Sepanjang 2015, kasus penularan lokal juga dilaporkan di beberapa wilayah Pasifik, termasuk Samoa, Fiji, Kaledonia Baru, Kepulauan Solomon, dan Vanuatu.
Pada Oktober 2015, Tanjung Verde di Afrika mengonfirmasi wabah Zika. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pengawasan penyakit perlu dilakukan lintas negara, khususnya di wilayah yang memiliki nyamuk penular dan mobilitas penduduk yang tinggi.
Chikungunya juga masih menjadi ancaman di berbagai wilayah tropis sepanjang 2015. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang juga dapat menyebarkan dengue dan Zika.
Gejala utamanya berupa demam mendadak dan nyeri sendi, yang pada sebagian penderita dapat bertahan selama berminggu-minggu atau lebih lama. Kesamaan gejala dengan penyakit lain membuat pemeriksaan klinis dan laboratorium diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Di kawasan Amerika, penyebaran chikungunya yang telah berlangsung sejak 2013 masih menjadi bagian dari tantangan pengendalian penyakit yang ditularkan nyamuk.
Menghadapi situasi tersebut, otoritas kesehatan di berbagai negara memperkuat pengawasan kasus, pengendalian nyamuk, serta penyuluhan kepada masyarakat. Upaya pencegahan mencakup pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk, penggunaan perlindungan terhadap gigitan, dan peningkatan akses terhadap pemeriksaan serta pengobatan.
WHO juga menyoroti resistansi nyamuk terhadap sejumlah insektisida sebagai tantangan bagi program pengendalian malaria. Kondisi ini mendorong perlunya pemantauan berkala dan penggunaan strategi pengendalian yang sesuai dengan situasi setiap wilayah.
Sepanjang 2015, perkembangan penyakit yang ditularkan nyamuk memperlihatkan bahwa tantangan kesehatan global berbeda-beda di setiap kawasan. Malaria masih menyebabkan kematian dalam jumlah besar, dengue dan chikungunya terus membebani wilayah tropis, sedangkan Zika berkembang menjadi perhatian baru di Amerika dan sejumlah wilayah lainnya.
Penguatan sistem kesehatan, deteksi dini, pengendalian vektor, dan kerja sama internasional tetap menjadi bagian penting dalam upaya menekan penyebaran penyakit tersebut.
Sumber: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), World Malaria Report 2015; WHO, laporan perkembangan Zika di Brasil dan Kolombia, Oktober 2015; Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), pembaruan epidemiologi Zika, Desember 2015.